Guru Positive, Mendidik Siswa Tanpa Bentakan dan Pukulan

0
3
Positive Parenting, Mendidik Siswa Tanpa Bentakan dan Pukulan
Guru Membentak Siswa. Gambar istockphoto

Gurusd.id – Teriakan, bentakan, dan pukulan sering menjadi cara untuk mendisiplinkan siswa. Apakah berhasil? Seringkali malah tidak berhasil. Sebagai gantinya, yuk belajar menerapkan positive parenting. Positive parenting mendorong perilaku siswa yang lebih baik. Teknik ini juga membantu Guru memahami cara yang berhasil baginya dalam mendisiplinkan siswa.

Nah, berikut ini 9 langkah efektif untuk menerapkan positive parenting.

1. MELIHAT DARI SUDUT PANDANG SISWA

Guru pasti pernah merasa kesal saat siswa mengulangi kesalahan yang sama. Perasaan kemarin sudah dinasihati panjang lebar, kenapa hari ini diulangi lagi. Lalu terlintas keinginan untuk membentak atau memukul agar siswa jera.

Stop! Di saat seperti ini tetaplah tenang, meski mungkin terasa sulit. Oke, kita perlu diam sejenak, ambil napas dalam, lalu perlahan hitung 1-10.

Selanjutnya, yuk kita coba melihat permasalahan dari sudut pandang siswa. Kira-kira apa penyebab siswa mengulangi perilaku yang tidak bisa diterima itu.

Perspektif siswa biasanya sangat berbeda dengan perspektif orang dewasa. Kita pun perlu banyak memaklumi tingkah lakunya karena mereka memang masih kecil.

Siswa masih belajar banyak hal, sehingga kita tidak bisa berekspektasi tinggi.

2. FOKUS PADA KEKUATAN SISWA, BUKAN KELEMAHANNYA

Terlalu sering melihat kelemahan siswa, akan membuat kita fokus pada hal negatif. Padahal setiap siswa unik. Mereka tumbuh dan belajar dengan kecepatan masing-masing.

Dengan fokus pada kekuatan siswa, kita akan semakin memahaminya. Siswa pun merasa lebih dicintai gurunya.

3. NIKMATI MOMEN BERSAMA SISWA

Mungkin hari-hari kita penuh dengan kesibukan. Terkadang kita tak peduli atau justru kesal saat si kecil berkali-kali menginterupsi kegiatan kita.

Padahal mungkin dia ingin menceritakan hal-hal yang baru saja ditemui atau dipelajari.

Yuk kita ingat Guru bahwa waktu berjalan sangat cepat. Anak-anak pun rasanya tumbuh begitu cepat. Sepertinya baru kemarin dilahirkan, sekarang anak-anak sudah bisa melakukan berbagai hal.

Untuk itu, mari kita nikmati momen bersama siswa, untuk menumbuhkan perasaan yang lebih positif saat membersamainya. Kita bisa menunjukkan senyum tulus saat siswa menunjukkan hasil karyanya.

Bisa pula dengan pelukan hangat saat usai membacakan buku cerita. Umpan balik atas hal-hal positif yang dilakukan siswa akan membuatnya semakin disayang dan dicintai.

4. MENERAPKAN ATURAN YANG KONSISTEN

Konsistensi dalam menjalankan aturan sesuai usia siswa sangat membantu menerapkan positive parenting. Alasannya adalah karena siswa membutuhkan bimbinagn dalam berperilaku.

Bagi siswa, rutinitas yang ajeg dan batasan tegas sangat membantu dirinya belajar. Jika aturan tidak dilaksanakan secara konsisten, maka siswa akan bingung dan sulit bekerja sama.

5. BERUSAHA TENANG DALAM MENANGGAPI PERILAKU SISWA

Anak-anak secara alami berperilaku dengan dorongan emosi yang kuat. Sedangkan kita, orang dewasa, bisa lebih baik dalam mengenali emosi dan mengendalikan diri.

Saat siswa berkata atau berperilaku kurang baik, jangan tergoda untuk membentak atau memukulnya. Alih-alih langsung bereaksi, sebaiknya kita menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri terlebih dahulu.

6. MINTA MAAF SAAT KEHILANGAN KESABARAN

Mendidik siswa bisa memicu stres di satu titik. Ketika banyak hal yang harus dipikirkan dan dilakukan, kita bisa jadi kehilangan kesabaran.

Jika ini terjadi, yuk minta maaf pada siswa dan memperbaiki keadaan.

Ya, guru memang tikak selalu benar, melainkan bisa saja berbuat salah. Namun, kita perlu memberi contoh bahwa guru pun harus minta maaf saat melakukan kesalahan.

7. MEMPERHATIKAN DIRI SENDIRI

Saat menjadi guru, fokus kita adalah pada anak-anak. Terkadang hal ini membuat diri sendiri kurang diperhatikan.

Kita tak peduli istirahat dan asupan nutrisi yang kurang. Padahal memberi perhatian pada diri sendiri merupakan salah satu amunisi dalam menerapkan positive parenting.

Guru bisa berbicara dengan teman sejawat untuk membantu mendapatkan me time dan berbagi peran. Me time pun tak perlu lama hingga berjam-jam. Bisa dengan 10 menit olahraga, 15 menit membaca buku, atau 5 menit jalan ke luar rumah sebentar sendirian.

Kita perlu memahami bahwa diri ini perlu waktu untuk diri sendiri, waktu bersama orang dewasa, atau waktu untuk melakukan yang kita sukai.

Dengan begitu, saat mengajar, kita kembali dalam keadaan segar dan tenang.

8. HINDARI MENGKRITIK SETIAP TINDAKAN SISWA

Saat si kecil melakukan sesuatu yang tak sesuai harapan kita, yuk tahan diri untuk tidak serta-merta mengkritiknya.

Sebaiknya kita sampaikan saran yang lebih membangun ketimbang kritik yang menjatuhkan semangat. 

Terlalu sering dikritik, bahkan saat tidak melakukan kesalahan, bisa membuat siswa kehilangan harga diri dan percaya dirinya.

Jangan pula terjebak dengan adu argumen ya,. Berdiskusi sah-sah saja, namun jangan biasakan si kecil untuk selalu adu argumen dengan suara keras.

Hal ini akan membuat kita dan anak-anak berada dalam situasi negatif.

9. MINTA BANTUAN SAAT KEWALAHAN SECARA EMOSIONAL

Saat Guru merasa kewalahan secara emosional, tidak ada salahnya minta bantuan kepada orang tua siswa. Bisa minta bantuan ke teman sejawat, forum guru, atau ke komunitas tertentu. Bahkan jika diperlukan, Guru bisa minta bantuan ke tenaga profesional seperti psikolog.

Mendidik siswa ibarat sedang berlari maraton, bukan lari cepat. Perjalanan yang ditempuh panjang dan penuh tantangan.

Kadang kita merasa salah langkah. Namun, itu tidak apa-apa karena kita punya kesempatan untuk memperbaikinya.

Merespons siswa dengan cinta dan memperbaiki hubungan dengan mereka adalah langkah nyata kita tengah menerapkan positive parenting.

sumber: https://sayangianak.com/positive-parenting-mendidik-anak-tanpa-bentakan-dan-pukulan

https://www.gurusd.id/2022/03/guru-positive-mendidik-siswa-tanpa-bentakan-dan-pukulan.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here