Guru SD MI Peletak Dasar Pendidikan

0
0

Ribuan orang menatap seorang yang mengenakan peci hitam dan kemeja putih berlengan panjang, telunjuknya mengarah kepada papan tulis hitam yang bertuliskan huruf vokal a, i, u, e, o.

Siapa lagi, kalau bukan Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia. Tak jauh dari sana, ada sebuah spanduk bertuliskan,”Bantulah usaha pemberantasan buta huruf”.

Kata pertama spanduk tersebut adalah bantulah. Sebuah ajakan dari pemerintah terhadap seluruh pihak saat itu untuk mengulurkan tangannya dalam memberantas melek aksara. kemudian, apa yang terjadi?

Hasilnya bisa dibilang luar biasa bahkan dapat dikatakan dahsyat. Dideklarasikannya Gerakan Pemberantasan Buta Huruf (PBH) yang dimulai pada bulan maret 1948 melibatkan 17 ribu guru dan sekitar 700 ribu peserta didik yang diselenggarakan di 18.663 lokasi. Sebuah gerakan nasional yang bertujuan mengubah Indonesia terbebas dari buta huruf.

Sejak saat itulah Indonesia bergerak naik dari masyarakat belum terdidik menjadi terdidik. Lalu, apakah Indonesia masih ada semangat nasional seperti itu?

Tentunya ada kesamaan antara Bung Karno dengan Jokowi selaku Presiden Republik Indonesia saat ini yaitu revolusi mental. Pemerintah sekarang mengajak berkolaborasi dengan seluruh  lapisan unsur masyarakat untuk dapat mengubah pola pikir dan bertindak.

Semua unsur, tanpa kecuali. Utamanya adalah guru sebagai perekayasa masa depan, dan peserta didik didalam kelas sebagai generasi penerima estafet kebangsaan. Digugu dan ditiru, adalah pepatah jawa yang mengandung filosofi bagi guru agar bisa melaksanakan tugasnya tidak hanya mengajar dan  mendidik saja, melainkan guru wajib menguasai kemampuan paedagogis, profesional, sosial, kepribadian dan melaksanakan  keteladanan.

Belakangan, pada dekade terakhir ini, seorang guru harus memiliki integritas tinggi dan memiliki jiwa revolusioner. Namun, apresiasi profesi lain terhadap guru sangatlah minim. Padahal, kemampuan sosial seorang guru di kemasyaratan tidak sedikit yang menjadi pengurus RT (Rukun Tetangga), atau menjadi Ketua RT atau Ketua RW (Rukun Warga) bahkan ketua DKM.

Penulis mencoba untuk mendapatkan petuah dari Abah Ukar, warga Dayeuhluhur kecamatan Warudoyong, seorang kakek yang sudah banyak makan asam garam, berumur delapan puluh dua tahun.

Beliau memberikan inspirasi bagaimana caranya menghargai seorang guru, utamanya guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Mengapa guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah?

Abah Ukar mengungkapkan, peserta didik mampu membaca, menulis, menghitung, membagi, mengkalikan, mengetahui etika, menguasai pelajaran dasar dilakukan di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, bukan di sekolah menengah.

Apabila peserta didik sekarang ditanya, profesi apa yang diinginkan kelak? jawabannya adalah ingin menjadi Dokter, ingin menjadi Pilot, ingin menjadi Polisi, ingin menjadi Tentara, ingin jadi pengusaha, ingin jadi arsitek, ingin jadi desainer, bahkan ingin jadi artis. Hanya satu atau dua peserta didik saja yang cita-citanya menjadi guru. Tak seorang peserta didik pun ingin menjadi guru SD/MI, apalagi menjadi guru Sekolah Dasar (SD).

Guru adalah definisi kebaikan. Kebaikan inilah yang dilakukan oleh guru atau yang bisa disebut keteladanan. Nilai kebaikan yang mengalir pada tubuh manusia menjadi kewajiban guru dalam melakukan transformasi kepada peserta didik.

Guru harus mampu mengalirkan nilai kebaikan kepada peserta didik agar menjadi wahana pembentukan pola pikir, sikap dan tingkah laku. Guru sudah seharusnya berani dan tidak menunggu dalam mengambil peran para nabi untuk menjaga kemurnian nilai kebaikan dan meneruskan aliran nilai kebaikan.

Nilai kebaikan ini sifatnya tetap, ajeg, kukuh dan dapat mengikuti perkembangan zaman, ia tidak akan pernah lekang oleh waktu, apalagi hilang ditelan zaman. Guru dalam membangun infrastruktur batin peserta didik harus mampu menebar benih nilai kebaikan.

Tanggungjawab inilah yang harus dikerjakan oleh guru berdasarkan panggilan jiwa. Jika aspek-aspek ini terpenuhi, maka ketercukupan rohaniah peserta didik tentu menjadi bekal yang tak ternilai harganya. Pendalaman seperti ini sesungguhnya yang menjadi prasyarat guru  apakah tercapai atau tidak tujuan proses pembelajaran didalam kelas.

Guru pewaris nilai luhur  dan nilai kebaikan yang pernah diemban oleh para nabi. Maka guru disebut pewaris nabi. Pewaris nilai luhur dan nilai kebaikan ini suatu saat akan diminta atau bahkan dipertanyakan kembali titipan berupa amanat mendidik oleh yang memberinya.

Guru SD/MI sebagai peletak dasar pendidikan di Indonesia, sebenarnya memiliki tugas yang dipikul amat berat. Jika seseorang sebagai peserta didik belajar formal dari Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah  (MI) sampai dengan perguruan tinggi selama tujuh belas tahun, maka waktu paling lama belajar adalah di SD / MI yaitu selama enam tahun.

Belajar di pendidikan dasar dimulai dengan mengenal identitas dirinya sendiri dan orientasi lingkungan. Mulai dikenalkan huruf, angka, orasi (menyimak dan berbicara) yang berkaitan dengan lisan, literasi (menulis dan membaca) yang berkaitan dengan tulisan mulai dipelajari. Kemampuan reseptif dan ekspresif ini merupakan kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas awal di sekolah dasar.

Lalu, guru SD/MI selaku guru kelas benar-benar dituntut utuk menjadi guru sejati. Mengapa? Guru SD/MI diharapkan tidak panik dengan terjadinya perpindahan kurikulum. Sebagai contoh, Kelas awal (kelas 1 s.d. 3) masih menggunakan pendekatan tematik dengan menggunakan kurikulum 2006 atau kelas 1 dan 2 menggunakan   pendekatan tematik integratif bagi sekolah yang melaksanakan kurikulum 2013 dan kelas tinggi (kelas 4 s.d. 6) masih menggunakan pendekatan mata pelajaran dengan kurikulum 2006 atau kelas 4 dan 5  menggunakan tematik integratif bagi sekolah yang melaksanakan  kurikulum 2013 tidak terlalu banyak perbedaan, karena sekolah dasar lebih banyak pengalaman faktual.

Berbeda dengan sekolah menengah yang masih menggunakan pengalaman mata pelajaran secara utuh, walaupun pembelajarannya tidak menggunakan pengalaman metakognitif. Dilihat dari jumlah jam mengajar (jjm), Guru SD/MI sudah terbiasa dengan pola 34 jam untuk guru kelas walaupun dalam DAPODIK  jumlah jam mengajarnya dicantumkan hanya 24 jam pelajaran. Untuk guru mata pelajaran seperti guru PJOK, PAI, bahasa daerah, bahasa inggris, Seni Budaya dan keterampilan pun tidak terlalu kesulitan beradaptasi walaupun kurikulum di Indonesia mengalami gonta-ganti.

Penulis masih ingat, mantan Mendikbud RI Fuad Hassan pada saat masih aktif dalam melaksanakan tugasnya, pernah mengatakan bahwa walapun terjadi gonjang-ganjing kurikulum, guru SD harus selalu berjalan pada jalurnya. Seolah-olah guru ditingkat dasar ini menjadi mesin bagi pabriknya, harus selalu mengikuti standar operasional prosedur yang telah ditetapkan. Guru SD/MI bisa dilukiskan sebagai  petani.

Saat menanam benih tanaman, kemudian  tiba-tiba terjadi kemarau maka guru ini tetap saja harus menanam tanaman tersebut, walaupun air hujan tidak turun. Dengan segala kemampuannya tanaman tersebut ditempatkan ditempat yang layak, disiram dan diberi pupuk agar dapat tumbuh sebaik mungkin. Artinya, guru SD/MI juga memberikan fondasi bagi peserta didik sebagai persiapan untuk memasuki pendidikan menengah.

Satuan pendidikan sekolah dasar merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia. Melalui pendidikan di sekolah dasar diharapkan akan menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas. Saat ini, banyak generasi penerus bangsa yang pandai secara akademik, tetapi lemah dalam tataran sikap dan perilaku.

Disinilah peran guru SD / MI dalam memanfaatkan kearifan lokal yang ada didaerah sekitar sekolah yang kemudian diintegrasikan dalam pembelajaran. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal, tetapi nilai yang terkandung didalamnya dianggap sangat universal.

Selain itu, guru SD/MI diwajibkan mampu untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme yang menghubungkan dengan kearifan lokal. Diharapkan peserta didik memiliki kearifan lokalnya sendiri sehingga menimbulkan kecintaan pada budayanya sendiri.

Dengan melaksanakan tugasnya seperti ini, berarti guru di pendidikan dasar ini memiliki jiwa visioner dalam melaksanakan kewajibannya artinya memiliki cara pandang kedepan.  Guru SD/MI juga wajib membantu peserta didik untuk meraih cita-citanya di masa depan.

Guru SD/MI itu harus menjadi guru yang paripurna. Namun guru bukanlah tokoh wayang Gatotkaca yang mampu terbang. Guru SD/MI mengajar semua mata pelajaran, kecuali pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Pendidikan Agama, itu pun jika gurunya disediakan oleh Pemerintah.

Guru SD/MI tidak hanya melaksanakan kewajibannya membangun insan yang siap menuju jenjang sekolah yang lebih tinggi, tetapi juga mendorong peserta didik agar mampu bersaing di sekolah menengah. Guru SD/MI sebagai peleletak dasar pendidikan di Indonesia, juga harus disiplin, tepat mutu dan tepat jumlah. Berdasarkan pemetaan di sekolah dasar, kekurangan guru kerap terjadi.

Walaupun tidak ada jam pelajarannnya, guru SD/MI harus berangkat pagi, masuk pukul 07.00 dan pulang sesuai dengan ketentuan setiap hari. Jadi guru SD/MI libur hanya pada hari minggu, hari nasional dan libur semester (jika dipandang perlu). Jika saja di SD/MI diberlakukan guru mata pelajaran, dengan menghilangkan guru kelas (walaupun tidak mungkin), belum tentu hasil pendidikannnya pun lebih baik. Justeru menambah masalah baru.

Bahkan, masih ada guru SD/MI yang merangkap menjadi penjaga sekolah, merangkap menjadi tata usaha, merangkap menjadi bendahara sekolah dan merangkap menjadi operator dapodik. Sebenarnya guru SD/MI masih mampu memperlihatkan sisa-sisa kejayannya karena mayoritas guru SD/MI masih banyak dihuni oleh lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) / Sekolah Guru Agama (SGA) yang notabene memiliki kemampuan didaktik metodiknya lebih sempurna dan elegan.

Andai saja terjadi rotasi antara guru SD/MI dengan dengan guru SMP/MTs atau tukar dengan guru SMA/SMK/MA, belum tentu guru SMP/MTs dan SMA/SMK/MA mau bertukar tempat pekerjaannya dengan guru SD, meskipun guru SD belum tentu juga bisa mengajar di sekolah menengah karena tingkat dan kadar keilmuannya belum sesuai.

Memang belum ada angket sederhana tentang hal ini. Tapi, hal ini bisa saja dijadikan polemik untuk memberi ketegasan tentang revolusi mental.

Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun) seorang pendidik dan sastrawan memiliki keprihatinan terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Ia mewujudkannya dengan mendirikan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Romo Mangun pernah berkata kalau saya meninggal, biarkan saya meninggal sebagai guru sekolah dasar.

Bagi Romo Mangun, pendidikan dasar jauh lebih penting daripada pendidikan tinggi. Itulah sebabnya, ia pun pernah berujar, “Biarlah pendidikan tinggi berengsek dan awut-awutan. Namun, kita tidak boleh menelantarkan pendidikan dasar.”

Penulis menyimpulkan bahwa pendidikan dasar, menengah dan tinggi adalah ikatan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, tidak boleh dijadikan dikotomi apalagi friksi. Harus menjadi satu kesatuan yang utuh. Mudah-mudahan pendidikan dasar menjadi peletak dasar pendidikan dan mampu menyiapkan peserta didik  ke jenjang yang lebih tinggi dengan baik menuju manusia Indonesia yang jujur, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, terampil dan berguna bagi nusa dan bangsa.

Pentingnya pendidikan dalam memajukan bangsa menjadi prioritas utama yaitu meletakan pentingnya pendidikan dalam konsetelasi pembangunan bangsa berarti menghargai keutamaan guru, sesuai dengan tema Hari Ulang Tahun Ke-74 PGRI dan Hari Guru Nasional tahun 2019 yaitu “Peran strategis Guru dalam mewujudkan Indonesia Unggul”. Semoga terkabul, Aamiin.

sumber link: https://radarsukabumi.com/rubrik/artikel/guru-sd-mi-peletak-dasar-pendidikan/

https://www.gurusd.id/2021/08/guru-sd-mi-peletak-dasar-pendidikan.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here